Empatnafsu manusia—aluamah, amarah, supiah, dan mutmainah dengan empat cahaya yang merepresentasikannya yaitu merah, hitam, kuning, dan putih—menurut Suhubudi sejatinya setara. Keempat nafsu tersebut sejatinya baik dan menjadi daya hidup bagi manusia, namun menjadi penghalang hati ketika salah satu atau lebih menjadi tidak terkendali
Musikadalah bahasa linguistik yang bersifat universal, ketika kita tidak memahami arti dari suatu lirik lagu karena menggunakan bahasa asing, tetapi di satu sisi keromantisan, kesedihan, kebahagiaan seseorang yang dituangkan dalam alunan suara berirama sesuai dengan expresi jiwa seseorang tersebut sangat mudah untuk diterima orang lain, bahkan yang tidak
Daripernyataan mengenai kualitatif di atas peneliti berupaya mengungkapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Tradisi Grebeg Suro di Ponorogo yang sebenarnya di lapangan. Untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, dilakukan beberapa cara. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data sebagai berikut.
OlehSri Mulyono (1982:39) nafsu yang muncul dari warna hitam disebut aluamah, yang dari warna merah disebut amarah, dan yang muncul dari warna kuning disebut sufiah. kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima
Kadang7 ( pitu ) metu saka marga hina, yaitu : aluamah, amarah, supiah, mutmainah, perbawa, pangaribawa, kumayan. Kadang 5 ( lima ) nora metu saka marga hina, yaitu : kekawah, ariari, marmarti, getih, tugelan puser. Oleh: petir saloka Aslmkm,semoga ketenangan selalu beserta saudaraku yang dicintai. Pertama-tama saya ingin ucapkn terimakaseh
Ojonganti kasemsem marang ka-Indahane wewujudan kang Elo,k asal soko Aluamah, Mutmainah, Amarah tan Supiyah ben ora keduwung ing tembe mburi. Nabine Nabi Ngisa, Malaikate Ngisrapil, sakabate Ngusman, Rohe Roh Rohani, nepsune Supiah, lintange Manikem. 26. Utawi wektu Ngisa iku, ireng rupane, tegese dinadekaken saking ora dadi ana,
Nafsupositip yaitu nafsu ” mutmainah “, dan nafsu negatip yaitu; nafsu “aluamah”, “hamarah” dan “sufiah” Seh Amongraga mengajarkan agar kita selalu mempergunakan nafsu positip dengan selalu menuntut ilmu, rajin bekerja, sholat, puasa dan lain-lain seperti apa yang diperintahkan Allah dalam Al’Quran.
Bentuknyajajaran genjang persegi empat, melambangkan empat hawa nafsu: amarah (emosi), aluamah (nafsu menghilangkan lapar), supiah (nafsu, memiliki hal-hal yang berkaitan dengan keduniawian), dan mutmainah (nafsu memaksakan diri untuk memperoleh keinginannya, termasuk jabatan). Dengan puasa ke empat nsfsu itu dibelenggu.
Apimelahirkan empat jenis jiwa/nafsu: aluamah (dalam ejaan Arab lawwamah) yang memancarkan warna hitam; amarah (ammarah) memancarkan warna merah; supiah (shufiyyah) berwarna kuning dan mutmainah (muthma'inah) yang berwarna putih. Dari udara lahir nafas, tanaffus, anfas dan nufus.
Amarahadalah nafsu emosional, aluamah adalah nafsu untuk memuaskan rasa lapar, supiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah atau bagus, dan mutmainah adalah nafsu untuk memaksa diri. Keempat nafsu ini adalah empat hal yang kita taklukkan selama berpuasa, jadi dengan memakan Ketupat, disimbolkan bahwa kita sudah mampu melawan dan
M3iVY. DARAH = MERAH, KUNING, PUTIH dan HITAM Manusia adalah lambang dari alam yang kecil mikrokosmos dan alam semesta sebagai lambang alam yang besar makrokosmos.Keempat anasir itu adalah1. Warna / Darah Merah sebagai lambang semangat manusia juga amarahnya manusia2. Warna / Darah Kuning sebagai lambang karunia, harta benda dan kejayaan Warna / Darah Putih sebagai lambang kemuliaan, kejujuran, kefitrahan Warna / Darah Hitam sebagai lambang kesabaran, kekuatan, keabadian di alam semesta ada empat unsur yaitu merah sebagai lambang api, kuning sebagai lambang angin, putih sebagai lambang air dan hitam sebagai lambang tanah/ unsur diatas bisa menjadi baik dan bisa menjadi buruk tergantung perilaku manusia itu sendiri. Segala nafsu dalam ajaran islam dikenal dengan istilah empat nafsu yaitu aluamah, supiyah, amarah, nafsu tersebut bisa melalui panca indra kita, dan kekompakan dari keempat nafsu tersebut menghasilkan konsentrasi menjadi manusia yang Menyatunya 4 Unsur Warna Darah, kita akan dapat lebih mendekati kesempurnaan Ya Robbal ' ALUAMAH, SUPIYAH, AMARAH dan MUTMAINAHSetiap manusia sebagai pemimpin dan harus mampu memimpin diri, harusmampu mengendalikan empat sahabat hidupnya antara lainNafsu Aluamah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah berani membunuh dan kejam apabila diganggu oleh orang lain disimbolkan warna hitam sebagai perwujudanya kulit. Selemah apapun manusia di dalam dirinya terdapat sifat kejam/pembunuh dan ingin berontak maka jangan anggap orang lemah itu tidak punya keberanian untuk membunuh. Ada pepatah cacing saja diinjak melawan, apalagi ilmiah sifat Aluamah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan tanah sebagai salah satu sumber kehidupan dengan kata lain manusia tidak makan zat tanah akan mati , maka dapat di pastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung dzat Supiyah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah pemujaan terhadap kemegahan dan kemewahan harta dan benda duniawi saja. Disimbolkan warna kuning sebagai perwujudannya air kuning. Jadi seorang alim apapun di dalam dirinya ada keinginan untuk kesenangan duniawi/kaya walaupun % saja. Oleh karena itu jangan munafik dengan harta ilmiah sifat Supiyah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan Angin/udara 02 sebagai salah satu sumber kehidupan, dengan kata lain manusia tidak menghirup udara akan mati. Dapat dipastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung udara Amarah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah politik, kecerdasan yang cenderung sombong pemarah, merasa pandai yang tidak mau dilampaui orang lain, di simbolkan warna merah sebagai perwujudannya darah merah. Jadi sesabar apapun manusia di dalam dirinya terdapat sifat amarah apabila di ganggu orang lain teramat sangat, ia akan marah dan jika tidak dapat dibendung ilmiah sifat Amarah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan api sebagai salah satu sumber kehidupan, dengan kata lain manusia tidak mendapatkan api/panas berakibat tubuh akan mati, maka dapat di pastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung api/suhu Mutmainah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia mengutamakan nafsu ibadah kepada tuhan yang Maha Esa, di simbolkan warna putih sebagai perwujudannya darah putih. Jadi sejahat apapun manusia di dalam dirinya ada keinginan untuk berbuat baik dan prinsipnya tidak ada orang jahat itu 100 % ilmiah sifat Mutmainah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan air sebagai salah satu sumber kehidupan, dengan kata lain manusia tidak minum akan mati maka dapat dipastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung ilmu geologi bumi ini salah satu faktor yang harus ada adalah kesempurnaan hidup manusia maka Allah Swt meniupkan Roh ke dalam jasad manusia yang tugasnya sebagai pengendali pengatur dan pengarah tubuh manusia ke jalan yang dikehendaki Allah, dan manusia diberi keleluasaan untuk menggunakan ke empat Sifat tersebut di atas agar mampu bertahan dan tetap hidup sebagai Insan karena itu apabila manusia tidak mampu mengendalikan ke empat sabahat hidupnya tersebut, maka manusia akan terombang-ambing ke dalam jurang kehancuran. Tetapi sebaliknya apabila manusia mampu mengendalikan, mengatur, menguasai ke empat sifat sahabatnya hidupnya dengan baik dan benar maka manusia tersebut akan mencapai kejayaan, kebahagiaan, kemakmuran dan kesempurnaan moralitas dalam hidupnya dan akan menjadi insan kamil yang sempurna dan mulia di sisi Allah sang Maha pencipta alam semesta dan yang perlu diketahui bersama bahwa dalam konsepsi kepemimpinan sedulur papat limo pancer tidak ada jabatan wakil ketua /wakil Roh yang ada Roh sebagai pemimpin dan pengendali keadaan di dampingi oleh aluamah napsu membunuh/tanah, supiyah napsu duniawi/angin, amarah napsu marah/api dan sifat Mutmainah nafsu Ibadah/air.
LIMBUK mesam-mesem tersenyum sendiri saat memarut singkong untuk dibuat lemet. Tampaknya ada yang lucu di benaknya. Gelagat tak biasa itu menjadi perhatian Mak Cangik yang saat itu juga sedang meracik menu berbuka puasa. Batin Limbuk menggumam fenomena bergesernya suasana dan nuansa yang dulu serba religius tulen setiap bulan puasa, tetapi kini terasa lebih dominan pada ritual konsumtifnya. Zaman berubah, termasuk dalam menyambut bulan penuh berkah. “Ada apa Nduk genduk, kok senyum-senyum sendiri?” tanya Cangkik. “Hati-hati, nanti tangannya terparut!” “Nggak apa-apa kok, Mak. Cuma bawaannya mau tertawa sendiri melihat perilaku masyarakat setiap bulan puasa tiba.” “Maksudnya yang mana?” Limbuk mengatakan, setiap bulan puasa makanan dan minuman berlimpah. Dari menjamurnya penjual takjil di jalan-jalan saat matahari mulai condong ke barat hingga toko kecil sampai besar serta pasar swalayan yang menjajakan bahan makanan bergunung-gunung. Di sisi lain, masyarakat selalu menyambut dengan adat khusus. Seperti sudah menjadi keharusan selama bulan Ramadan mesti ada sajian berbuka yang tidak biasa, yang serba segar dan nikmat. Euforia berpesta terasa di mana-mana. “Banyak warga yang pagi-pagi sudah merancang menu berbuka. Ngenak-ngenake, membuat makanan-minuman spesial. Anggaran rumah tangga jadi meningkat.” Di kota-kota, banyak warga yang jauh-jauh hari booking tempat di restoran untuk berbuka. Antrean panjang juga mengular di rumah-rumah makan favorit untuk mendapat giliran berbuka. Bahkan, tidak jarang terjadi pertengkaran sesama pelanggan hanya karena memperebutkan kursi dan meja makan. “Kan, ramai dan gayeng ta, Nduk,” ujar Cangik sambil tersenyum. “Iya, Mak, meriah abis.” Belum lagi, lanjutnya, soal aktivitas berbuka bersama. Ini kebiasaan yang sudah menjamur di mana pun. Ingar-bingar Ramadan lebih banyak dilukisi dengan ritual-ritual’ yang terkonsentrasi’ pada urusan isi perut. “Apa ada yang salah, Nduk?” “Ya, bagaimana kalau melihat kenyataan itu, Mak. Salah sih, ya nggak juga. Tapi, mohon maaf, kesannya berpuasa kok nafsu aluamahnya malah ngambra-ambra tak terkendali. Padahal, berpuasa itu, katanya, meper menahan segala hawa nafsu.” Limbuk juga bercerita tentang kebiasaan temannya setiap menjelang berbuka. Rekannya itu gemar membeli atau kadang membuat bermacam-macam menu berbuka menuruti imajinasi kenikmatan lidah. Tapi, ketika waktu berbuka tiba, banyak yang tidak terkonsumsi sehingga mubazir. Cangik tidak membantah celotehan putri semata wayangnya itu. Ia merasakan saat ini memang berbeda dengan zaman dahulu. Ketika dirinya masih muda, tidak ada kebiasaan merayakan Ramadan dengan menggelorakan urusan perut, ora ilok tidak pantas. Perempuan paruh baya itu mengenang, kala itu kebiasaan semua warga berbuka dengan menu apa adanya, tanpa perlu mengada-ada. Nuansa keprihatinan ibadah begitu merasuk sehingga setiap warga tampak begitu istikamah menjalankan kewajibannya berpuasa. Benak abdi dalem Istana Amarta itu mencari jawaban, mungkinkah perubahan ini karena terkait dengan kondisi ekomoni masyarakat yang dulu serba terbatas, sedangkan kini serba terjangkau. “Ah… kiranya bukan itu penyebabnya,” pikirnya. Menurut Limbuk, akibat polah masyarakat yang konsumtif pada setiap bulan puasa, harga hampir semua bahan makanan melonjak. Puncaknya terjadi beberapa hari menjelang Lebaran. Kondisi ini terus berulang setiap tahunnya. “Coba renungkan, Mak. Bulan puasa kok jumlah kebutuhan makanan malah melonjak. Menurut nalar, mestinya berkurang karena berpuasa itu maknanya juga mengurang-ngurangi. Ini juga lucu kan, Mak.” Konsekuensinya, setiap menjelang Ramadan tiba, pemerintah mesti menjamin ketercukupan semua bahan makanan. Konon, hal itu harus dilakukan juga untuk menjaga ketenangan serta kekhusyukan umat menjalankan ibadah puasa. Cangik memang mendapati hampir semua bahan makanan di pasar-pasar harganya naik. Bahkan, untuk bahan pangan tertentu harganya melangit. Tampaknya semua sudah menganggap kondisi seperti itu merupakan kewajaran. “Nduk, tadi kamu menyinggung nafsu aluamah. Setahumu apa itu?” “Mak kan sudah paham!” Menurut piwulang almarhum bapaknya, Limbuk menjelaskan, aluamah adalah nafsu yang menimbulkan keinginan makan dan minum berlebihan. Pengabdi nafsu aluamah tandanya gemar makan-minum yang enak-enak dan tidak pernah puas. Mendengar keterangan Limbuk, Cangik tersenyum dan manggut-manggut. “Malah seharusnya, berpuasa itu bukan hanya mengendalikan nafsu aluamah saja, Nduk, tetapi juga nafsu-nafsu lainnya.” “Nafsu lainnya itu apa, Mak?” Selain aluamah, kata Cangik, ada nafsu amarah dan supiah. Amarah adalah keinginan selalu marah dan mudah tersinggung, sedangkan supiah adalah nafsu gandrung keindahan yang juga menimbulkan berahi tanpa batas kepuasan. Tiga nafsu itu mesti dikendalikan, bukan hanya ketika Ramadan, tetapi sepanjang hayat. Masih ada satu lagi, lanjutnya, yakni mutmainah. Nafsu ini mengandung kesabaran dan menimbulkan keinginan membantu orang atau pihak lain. Nafsu ini yang mesti terus diaktualkan dan dikembangkan, tetapi tetap dalam kendali. “Intinya, Nduk, hidup ini mesti dijalani dengan berpuasa. Maksudnya, hidup ini harus dalam kendali diri. Jangan sebaliknya, hidup dikuasai oleh nafsu karena sesungguhnya nafsu itu menjerumuskan,” wanti-wantinya. Selanjutnya Cangik mengajak semuanya untuk berpuasa dengan benar. Berpuasa bukan sekadar menahan haus-lapar dan hawa nafsu yang lain sejak pagi hingga matahari terbenam, tetapi mesti menyerap hakikatnya. “Jangan sampai berpuasa hanya kewajiban simbolik. Ibadah ini harus benar-benar diniatkan dan dijalankan sesuai dengan ajarannya sehingga setiap umat menjadi insan-insan yang sehat jasmani dan rohani.” M-2....
ALUAMAH, SUPIYAH, AMARAH dan MUTMAINAH. Dalam LAKU HAKEKAT HIDUP; Putera Rama Tanah Pasundan Jakarta Kamis 13 Nov 2014 Nafsu Aluamah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah berani membunuh dan kejam apabila diganggu oleh orang lain disimbolkan warna hitam sebagai perwujudanya kulit Selemah apapun manusia di dalam dirinya terdapat sifat kejam/pembunuh dan ingin berontak maka jangan anggap orang lemah itu tidak punya keberanian untuk membunuh. Ada pepatah cacing saja diinjak melawan apalagi manusia. Secara ilmiah sifat Aluamah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan tanah sebagai salah satu sumber kehidupan dengan kata lain manusia tidak makan zat tanah akan mati maka dapat di pastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung dzat tanah. Nafsu Supiyah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah pemujaan terhadap kemegahan dan kemewahan harta dan benda duniawi saja disimbolkan warna kuning sebagai perwujudannya air kuning. Jadi seorang alim apapun di dalam dirinya ada keinginan untuk kesenangan duniawi/kaya walaupun % saja oleh karena itu jangan munafik dengan harta dunia Secara ilmiah sifat Supiyah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan Angin/udara 02 sebagai salah satu sumber kehidupan dengan kata lain manusia tidak menghirup udara akan mati dapat dipastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung udara 02. Nafsu Amarah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah politik, kecerdasan yang cenderung sombong pemarah, merasa pandai yang tidak mau dilampaui orang lain di simbolkan warna merah sebagai perwujudannya darah merah Jadi sesabar apapun manusia di dalam dirinya terdapat sifat amarah apabila di ganggu orang lain teramat sangat ia akan marah dan jika tidak dapat dibendung lag. Secara ilmiah sifat Amarah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan api sebagai salah satu sumber kehidupan dengan kata lain manusia tidak api/panas tubuh akan mati maka dapat di pastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung api/suhu panas Nafsu Mutmainah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia mengutamakan nafsu ibadah kepada tuhan yang Maha Esa di simbolkan warna putih sebagai perwujudannya darah putih. Jadi sejahat apapun manusia di dalam dirinya ada keinginan untuk berbuat baik dan prinsifnya tidak ada orang jahat itu 100 % jahatnya. Secara ilmiah sifat Mutmainah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan air sebagai salah satu sumber kehidupan dengan kata lain manusia tidak minum akan mati maka dapat dipastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung air Secara ilmu geologi bumi ini salah satu faktor yang harus ada adalah air; Sebagai kesempurnaan hidup manusia maka Allah Swt meniupkan Roh ke dalam jasad manusia yang tugasnya sebagai pengendali pengatur dan pengarah tubuh manusia ke jalan yang dikehendaki Allah dan manusia diberi keleluasaan untuk menggunakan ke empat Sifat tersebut di atas agar mampu bertahan dan tetap hidup sebagai Insan kamil. Oleh karena itu apabila manusia tidak mampu mengendalikan ke empat sabahat hidupnya tersebut maka manusia akan terombang-ambing ke dalam jurang kehancuran. Tetapi sebaliknya apabila manusia mampu mengendalikan, mengatur, menguasai ke empat sifat sahabatnya hidupnya dengan baik dan benar maka manusia tersebut akan mencapai kejayaan, kebahagiaan, kemakmuran dan kesempurnaan moralitas dalam hidupnya dan akan menjadi insan khamil yang sempurna dan mulia di sisi Allah sang Maha pencipta alam semesta dan seisinya. Selanjutnya yang perlu diketahui bersama bahwa dalam konsepsi kepemimpinan sedulur papat limo pancer tidak ada jabatan wakil ketua /wakil Roh yang ada Roh sebagai pemimpin dan pengendali keadaan di dampingi oleh aluamah napsu membunuh/tanah, supiyah napsu duniawi/angin, amarah napsu marah/api dan sifat Mutmainah nafsu Ibadah/air. Semoga; Artikel tentang Sifat ALUAMAH, SUPIYAH, AMARAH dan MUTMAINAH Dalam LAKU HAKEKAT HIDUP ini... Dapat bermanfaat bagi kita semuanya. Sebagai wawasan dan tambahan pengalaman. Salam kasih damai nan bahagia selalu kanti Teguh Rahayu Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian yang terberkahi Allah Ta’ala. Amiin dan Terima kasih. Putera Rama Tanah Pasundan